Dong Suk tumbuh dalam kemiskinan sebelum meninggalkan rumah pada usia 18 tahun. Selama 15 tahun berikutnya, ia meniti kehidupan baru dan berhasil menjadi jaksa. Saat perjalanan membawanya pulang, ia berharap dapat menghadapi masa lalu, tetapi perasaan terhadap keluarganya justru menjadi dilema. Ia malu pada mereka, menyimpan kemarahan, sekaligus masih terikat oleh kasih sayang. Interaksi dengan ibu, saudara, dan keponakannya membuat Dong Suk melihat kembali arti rumah melalui berbagai momen sederhana.
Komentar 0
TerbaruAturan komentar
Komentar yang melanggar dapat dihapus pengelola.
Menyiapkan akun…
Memuat komentar…